OPPORTUNITY COST
Memang benar apa yang dikatakan orang banyak kalau sudah megang uang pasti malas sekolah. Itulah sekarang yang sedang melandaku, tetapi bukan karena uang saja, tetapi kesibukan pekerjaan yang tidak bisa diajak kompromi. Bayangkan saja aku kuliah setiap akhir pekan, tetapi justru setiap akhir pekanlah perusahaan mengadakan event, atau acara-acara lain seperti nikahan teman kantor, undangan, dll, belum lagi waktu istirahat yang harus dikorbankan.
Kuliah diakhir pekan memang menyita waktu & perhatian. Seharunsnya akhir pekan dipakai untuk bersantai & refressing malah justru dipakai dengan aktifitas yang membutuhkan pemikiran tajam. Kuliahnya saja yang akhir pekan tapi otak terus terkuras satu minggu full dengan tugas-tugas dari dosen.
Kalau dalam bahasa akuntansinya kuliah akhir pekan malah menimbulkan opportunity cost yang juga sangat besar. Seperti waktu santai dan istirahat yang harus dikorbankan dengan aktivitas yang menyita daya pikir, waktu untuk bersosialiasi dan mencari hiburan juga harus dikorbankan. Malah menimbulkan biaya baru seperti transportasi, akomodasi, pembelian buku, foto copi, dll. Masih menggunakan bahasa akuntansi, dampak untuk masa yang akan datang (Future Value) juga akan lebih besar.
Ibarat Teori Investasi. Opportunity Cost yang terjadi saat ini dapat kita anggap sebagai Initial Investment (investsai dalam pendidikan). Tentunya sebulum initial investment dilakukan perlu ditelaah dulu alternatif portofolio yang akan diambil. Dan semuanya telah dikonsultasikan kepada manajer investasi (teman & keluarga). Juga telah dilakukan juga analisa Risk & Return dengan menggunakan fundamental analysis.
Berdasarkan teori investasi ini akan menghasilakn FV (Future Value) yang sangat besar sekali. Tepat sekali dengan apa yang dikatakan John Nisbit dalam bukunya Mega Trend 2000 bahwa investasi yang paling tepat bagi bangsa indonesia saat ini adalah pendidikan, carilah ilmu setinggi-tingginya setelah itu kembali untuk membenahi bangsa.. sok nasionalis banget ya gw. Hee.he..
Sesuai dengan hitung-hitungan ala warung kopi investasi yang saya lakukan ini (sekitar 50 juta) akan menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat di masa yang akan datang. Namun karena hitungan menggunakan asumsi warung kopi. Estimasi cash flow per tahunnya masih belum bisa di prediksi. Untuk itulah saya mengajak pakar warung kopi untuk ikut membantu analisa menggunakan analisa NPV, IRR, maupun Pay Back Period (ngerti ga ya).
Meski menggunakan bahasa apapun itu semua orang tahu bahwa prinsip NO PAIN NO GAIN, HIGH RISK HIGH RETURN benar adanya. Semoga Opportunity yang terjadi benar-benar menghasilkan manfaat yang besar bagiku. Tuhan memberkati.
April 10th, 2008 at 4:45 am
woi mana artinya opportunity cost nya wa lagi butuh ke pepet nih