Archive for July, 2006

Kepemimpinan

Sunday, July 30th, 2006

     Membangun Skil Kepemimpinan:

Pendahuluan

Pernahkah Anda melihat seorang pemimpin yang penuh pengabdian. Ia bekerja siang dan malam, bahkan sampai melalaikan istri dan anak-anaknya. Ia juga tidak mempersoalkan fasilitas yang tersedia, apalagi fasilitas bagi dirinya sendiri. Selain itu, orang itu hidup bagaikan sebuah dinamo yang berdaya besar dan kuat serta terus dihangati oleh visinya. Dalam banyak hal, sikap hidup dan kepemimpinannya menjadi teladan. Namun, secara faktual, ia tidak berhasil membuat komunitasnya bergerak atau berubah. Visinya seakan tinggal menjadi impian belaka. Apa yang salah disini?

Salah satu definisi kepemimpinan adalah daya untuk mendorong dan mengarahkan orang-orang untuk bergerak mencari tujuan komunitas. Kepemimpinan dalam suatu komunitas akan menentukan bagaimana struktur, sistem dan budaya dipelihara dan diperkembangkan sehingga terjadi "gerak" bersama untuk mencapai misi komunitas tersebut.

Musa mencoba menjadi pemimpin yang baik, namun secara de facto, dirinyalah yang menjadikan Israel tidak bergerak secepat yang diinginkan. Dirinya pula yang membuatnya lelah dan tidak dapat berfungsi optimum. Ia tidak membuat suatu budaya kerja yang mendorong gerak yang kuat dan pemberdayaan pengikutnya. Ia menjadi pusat dinamika komunitasnya. Akibatnya, kekuatan dari komunitasnya ditentukan oleh kekuatannya sendiri, sedangkan potensi-potensi orang lain yang Tuhan letakkan di sekitarnya, terbengkalai.

Ketika Musa berubah, bangsa Israilpun berubah dalam cara kerja dan kecepatan gerak mereka. Potensi-potensi tidur kini dimunculkan ke permukaan. Berkat Tuhan mengalir lebih deras.

Dalam dunia modern, apalagi di dalam dunia pelayanan gerejawi atau organisasi Kristen hal serupa terjadi. Para pemimpin yang bekerja keras menjadi penghalang bagi berkat Tuhan. Bukan karena mereka malas, atau culas, serta picik. Mereka lalai untuk memberdayakan banyak orang. Jadi bagaimana cara memberdayakan?

Pertama, kesediaan memberdayakan merupakan suatu sikap spiritual. Orang yang bersedia memberdayakan orang lain menyatakan di depan orang banyak bahwa ia mempercayakan semua proses pelayanannya kepada Tuhan dan orang-orang yang Ia letakkan di sekitarnya. Ia tidak menjadikan dirinya pusat segalanya. Ia hanya melakukan apa yang menjadi bagiannya seperti seorang petani yang menabur dan di malam hari ia tidur. Benih yang ditaburkan bertumbuh, dan bagaimana hal itu terjadi ia tidak tahu. Dalam melakukan proses ini, seringkali memang ada orang yang tidak memahami sang pemimpin. Orang sering menginginkan si pemimpin tampil di segala urusan dan dengan menonjol.

Secara filosofis ada suatu pendapat dari James McGreror Burns yang membedakan kepemimpinan transaksionil dan transformasionil. Kepemimpinan transaksionil merupakan usaha menjalankan proses kepemimpinan sedemikian rupa sehingga sebagian besar pihak terpuaskan. Dengan kata lain kepemimpinan merupakan proses bertransaksi sehingga semua merasa untung dan bahagia karena apa yang dikehendaki didapatkan. Dengan cara seperti ini kepemimpinan yang ada dipertahankan karena kehadirannya menjaminkan adanya transaksi yang paling menguntungkan.

Orang-orang serupa ini akan sulit menjadi pemimpin yang melayani dan memberdayakan.

Kepemimpinan yang bercorak transformasionil adalah kepemimpinan yang menekankan gerak maju atau perubahan dari setiap pihak dan dari organisasinya. Di dalam menjaminkan tranformasi atau perubahan berkualitas ini, bila perlu diambil resiko-resiko seperti konflik atau pertentangan terbuka. Bila perlu, corak transaksi memang dapat dipergunakan, namun bukan semata-mata demi didapatkan rasa senang dan rasa beruntung pada semua pihak, namun demi tercapainya perubahan dan perkembangan.

Kedua, suatu keterampilan perlu dipelajari dengan serius. Suatu metode pelaksanaan pemberdayaan yang sangat populer sejak akhir dekade lalu adalah apa yang dikembangkan oleh Blanchard dan Hersey dengan nama kepemimpinan situasionil.

Kerangka kepemimpinan Situasional

Kepemimpinan situasionil adalah suatu metode pelaksanaan kepemimpinan secara mikro, artinya bagaimana seorang

pemimpin harus menghadapi orang-orang yang dipimpinnya sehari-hari. Jadi sifatnya adalah ilmu yang praktis dan taktis.

Di balik praktek kepemimpinan situasional terdapat suatu filosofi bahwa seorang pemimpin haruslah mengubah orang lain, meneladani, serta telaten mengamati kemajuan dari orang yang ia pimpin. Ia harus memiliki sensitivitas untuk mem"baca" siapa yang ia pimpin sehingga dapat menentukan gaya memimpin yang paling cocok bagi mereka. Untuk tiap kategori orang tertentu diperlukan suatu pendekatan atau cara kepemimpinan tersendiri. karenanya, Blanchard menekankan perlunya kita meneliti variabel-variabel yang berpengaruh di dalam kerangka membuat klasifikasi orang-orang yang dipimpin. Blanchard dan Hersey mendapatkan bahwa ada dua variabel yang berperan disini, yaitu kematangan pribadi dan tugas kepemimpinan.

Kematangan yang dipimpin:

Berdasarkan penelitian terhadap kenyataan kasat mata, maka pertama-tama tingkat kematangan orang yang dipimpin ternyata dapat dikategorikan ke dalam empat jendela kematangan sebagai berikut

MATANG HAMPIR MATANG TUMBUH TIDAK MATANG

Orang-orang yang tidak matang: mereka adalah orang-orang yang memiliki motivasi rendah dan kemampuan kerja yang rendah.

Orang-orang yang sedang bertumbuh: mereka adalah orang-orang yang kadang kala memiliki motivasi namun masih belum memiliki kemampuan kerja yang tinggi.

Orang-orang yang hampir matang: mereka adalah orang-oang yang telah memiliki kemampuan kerja yang tinggi, dan sering belum termotivir untuk melakukan apa yang menjadi tujuan dari pemimpin mereka.

Orang–orang yang matang: mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan kerja yang tinggi serta umumnya sudah bermotivasi mencapai tujuan bersama.

Pembagian tersebut berdasar dua variabel yaitu tingkat motivasi alias berapa maunya mereka bekerja dan tingkat kompetensi alias tingkat pengalaman dan skil mereka. Kombinasi dari kedua variabel tadi menghasilkan suatu matriks sebagai berikut:

4

Mampu

&

Mau

3

Mampu

Tapi Pudar Kemauannya

2

Tidak

Mampu

TapiSudah Mau

1

Tidak

Mampu

Dan Tidak Mau

Tugas kepemimpinan:

Selanjutnya, Blanchard dan Hersey meneliti bahwa tindakan kepemimpinan mencakup dua urusan, yaitu proses mengarahkan

orang yang dipimpin kepada tujuan bersama serta proses memelihara hubungan dengan mereka yang dipimpin. Dengan cara lain dapat dikatakan bahwa mereka yang dipimpin membutuhkan bantuan pemimpin untuk memelihara motivasi mereka serta mengarahkan langkah-langkah mereka kepada tujuan yang ingin di capai.

H

U

B

U

N

G

A

N

PENGARAHAN

Penerapan

Dengan dasar konsep tersebut maka, pada kategori yang pertama terdapat orang-orang yang harus dipimpin dengan memberikan mereka pengarahan yang rinci dan mendalam. Dengan kata lain, pemimpin harus mengeluarkan enerji yang besar untuk pengarahan bagi mereka. Selanjutnya untuk mereka juga si pemimpin harus memelihara hubungan, namun pada intensitas yang terbatas, atau secukupnya. Dengan kata lain metode kepemimpinan yang baik adalah yang memberikan rincian penugasan atau instruksi dan kemudian supervisi yang ketat dengan hubungan sekedarnya.

Pada kategori yang kedua terdapat orang-orang yang harus dipimpin dengan memberikan mereka pengarahan yang secukupnya. Dengan kata lain, pemimpin harus mengeluarkan enerji yang sekedarnya untuk pengarahan bagi mereka, namun untuk mereka si pemimpin harus memelihara hubungan dengan intensitas yang tinggi. Dengan kata lain, terhadap orang–orang dikategori ini keputusan-keputusan pemimpin dan tujuan yang hendak dicapai disampaikan, kemudian mereka dapat meminta penjelasan.

Pada kategori yang ketiga, pengarahan diberikan dalam bentuk "membagikan" gagasan. Kemudian hubungan yang tinggi dinyatakan dengan mengajak mereka yang dipimpin bersama-sama mengambil keputusan. Perhatian utama disini adalah agar mereka dapat diyakinkan untuk bekerja menuju tujuan bersama.

Pada kategori yang terakhir, pendelegasian wewenang dan tugas diberikan dengan pengarahan sekedarnya, yaitu tentang tujuan umum yang hendak dicapai. Mereka yang dipimpin diberikan wewenang mengambil keputusan dan tanggung jawab yang luas.

Bila dikombinasikan keempat metode kepemimpinan tadi dengan tingkat kematangan, maka didapatkan skema sebagai berikut:

Tinggi

Sedang

Rendah

M4

M3

M2

M1

mampu

&

mau

Mampu

&

tidak mau

Tdk mampu

&

mau

Tdk mampu

&

tidak mau

Dengan kata lain, metode kepemimpinan yang pertama cocok untuk orang–orang yang belum matang, metode yang kedua untuk orang-orang yang bertumbuh, metode yang ketiga untuk mereka yang hampir matang, sedangkan metode terakhir sangat baik dipergunakan bagi mereka yang sudah matang.

Penugasan tinggi dan hubungan tinggi

Hubungan secukupnya dan Penugasan secukupnya

HUBUNGAN

Penugasan agak tinggi dan hubungan tinggi

Hubungan tinggi dan Penugasan rendah

TINGKAT PENUGASAN

Metode kepemimpinan situasionil ini menolong di dalam praktek nyata namun hanya dapat berguna bila sang pemimpin mampu membaca dengan akurat siapa yang dipimpinnya. Selain itu penerimaan atas keterbatasan dan keunggulan tiap orang yang dipimpinnya merupakan ciri utama metode ini. Maka, keluwesan harus menjadi titik berangkat dari kepemimpinan situasionil ini. Bila dikaitkan metode ini dengan dua jenis kepemimpinan yang dibahas sebelumnya, maka metode ini bersifat sekaligus traksionil dan transformatoris. Kata kuncinya adalah bagaimana pemimpin berkomunikasi pada tingkat kematangan orang-orang yang dipimpinnya. Namun, bila pemimpin tadi tidak mengubah pola kepemimpinan pada saat orang yang dipimpinnya telah bertumbuh lebih matang, maka ia akan mengalami kesulitan-kesulitan.

Hal yang penting dari kepemimpinan tersebut, ialah bagaimana sang pemimpin menolong agar orang yang ia pimpin mengalami transformasi dan tidak berhenti pada satu tingkat kedewasaan saja.

Aktivitas

Ajarkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang ia belum tahu sama sekali.

Contoh:

membuat origami

melakukan gerak tari

Setelah ia mahir, ubahlah gaya kepemimpinan Anda. Lihatlah hasilnya. Diskusikan, lalu berikan padanya tugas yang lebih sulit. Diskusikan kembali dan simpulkan apa yang kalian pelajari.

——————————————————————————-

Cara Memberdayakan dengan Metode Kepemimpinan

Situasional

Pemimpin dengan doanya

Sunday, July 30th, 2006
  Bila kita membicarakan pemimpin dengan kehidupan doa dan


  keuangannya, nampaknya urusan ini terlalu sepele dalam jenjang


  penguraian "kepemimpinan". Bukankah dengan sendirinya seorang


  pemimpin harus berdoa, membaca, dan mengurus keuangannya? Memang


  seharusnya demikian. Tetapi kita tidak boleh keliru. Tidak sedikit


  pemimpin Kristen yang gagal dan jatuh karena meremehkan waktu


  doanya. Tidak sedikit pula pemimpin yang sulit berkembang dalam


  kepemimpinannya karena meremehkan apa yang harus dibaca. Lebih


  banyak lagi pemimpin yang gagal sebab tidak bisa mengatur keuangan


  yang dipercayakan kepadanya. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui


  hal-hal praktis yang berhubungan dengan persiapan psikologis seorang


  pemimpin yang membawa pembaharuan.





  Pemimpin gereja, tepatnya pemimpin pergerakan kerohanian dalam


  Alkitab dan sejarah gereja adalah mereka yang dipenuhi Roh Kudus.


  Standar pendidikan belum cukup kalau tidak sungguh-sungguh dipenuhi


  oleh Roh Allah.





  Ketika Barnabas dipakai oleh Tuhan untuk memanggil Paulus, dikatakan


  bahwa ia seorang yang baik, beriman, dan penuh dengan Roh Kudus


  (Kisah Para Rasul 11). Jadi kita melihat di sini, semua pemimpin


  Kristen harus dipenuhi Roh Kudus. Kalau tidak, kita bisa jatuh dalam


  kesombongan dan pengandalan diri. Karena itu kita harus banyak


  berdoa. Jangan menggantikan hikmat Allah dengan hikmat sendiri.


  Meskipun kita memiliki kemampuan dalam banyak hal, janganlah lupa


  berdoa.





  Menurut hemat saya, kekurangan saya yang terbesar ialah "doa". Saya


  lebih banyak membaca daripada berdoa. Saya harus jujur akan hal ini.


  Kendati demikian, saya melihat bahwa untuk mengatasi setiap masalah,


  doa itu sangat menentukan. Setahu saya dalam setiap hal yang saya


  urus, Tuhan selalu mengingatkan saya untuk berdoa.





  Percobaan yang paling berat bagi kebanyakan pemimpin ialah "sulit


  berdoa", meskipun tahu bahwa doa itu penting. Saya katakan dengan


  jujur, itu benar. Saya tahu doa itu penting sekali, tapi saya masih


  kurang berdoa.





  Memasuki tahun 1986, saya membuat beberapa keputusan penting. Antara


  lain, saya berjanji kepada Tuhan untuk menambah waktu doa saya dua


  kali lipat dan membaca Alkitab.





  Kadang-kadang dalam hati saya ada satu pikiran begini, "Seandainya


  saya tidak lagi memimpin secara eksekutif, saya akan memakai waktu


  saya untuk tiga hal, yaitu berdoa, membaca, dan menulis. Dalam


  kesibukan seperti sekarang, saya memang tidak mampu melakukan


  ketiganya sekaligus. Kadang-kadang saya membela diri dengan berkata,


  kurang tepat kalau berencana demikian, toh tugas saya banyak." Ya.


  Tugas harus dikerjakan. Tapi bagaimanapun juga, tanpa doa kita tidak


  bisa menjadi pemimpin yang berhasil dalam arti rohani. Bahaya yang


  mengancam para pemimpin Kristen ialah jatuh dalam kesombongan dengan


  bersandar pada kesanggupan, bersandar pada bakat sendiri tanpa


  urapan Roh Kudus, tanpa pengertian rohani. Pengalaman pun tidak


  boleh menjadi landasan. Kita masih membutuhkan penyucian Tuhan untuk


  tiap pengalaman agar dapat maju dalam pelayanan. Semua pengalaman


  dan persiapan masih harus disucikan oleh Tuhan. Dengan demikian,


  pelayanan dan kepemimpinan hanya boleh berjalan menurut rencana


  Tuhan.





  Saya bersyukur pada Tuhan karena akhir-akhir ini saya tertolong


  dalam hal pengutamaan doa. Sekarang saya lebih banyak berdoa dan


  membaca Alkitab dibandingkan tahun lalu. Saya sungguh menyadari


  bahwa apa pun keputusan yang dibuat atau kebijaksanaan yang diambil,


  mudah sekali untuk jatuh dalam cara daging yang berdasarkan


  pengalaman, kemampuan, dan karunia. Itulah sebabnya, saya berusaha


  membaca

lima

 pasal Alkitab dalam satu hari sebagai satu perjanjian


  dengan Tuhan dan memakai waktu untuk berdoa.





  Dua tahun yang lalu terjadi pengalaman yang indah. Pada tanggal 6


  Juli 1984, saya dibawa Tuhan untuk berdoa di pondok doa "Daud" di


  Junggo, sekitar sepuluh kilometer dari tempat tinggal kami. Memang


  itu tempat khusus untuk berdoa bagi saya, baik persiapan untuk


  Kebaktian Tahunan maupun segala kebutuhan lain. Roh Tuhan mendorong


  saya untuk masuk dalam kerinduan berdoa selama 32 hari. Suatu


  pengalaman yang indah. Empat hari berdoa sendirian dengan Tuhan dan


  28 hari lainnya berdoa setelah bangun jam tiga pagi sampai fajar.


  Tubuh saya memang terasa lemah, tapi kuasa doa itu membuat saya


  segar dan kuat.





  Sesudah 32 hari berdoa, Tuhan membuka rahasia-rahasia yang indah


  dan sistematis, yang diberikan melalui bacaan-bacaan.





  Karena itu, kehidupan doa bagi seorang pemimpin sangatlah penting.


  Saya semakin menyadari bahwa tanggung jawab yang makin besar, urusan


  yang bertambah ruwet, dan jangkauan pelayanan yang bertambah luas,


  semakin menuntut saya untuk berdoa banyak. Tidak ada jalan lain


  daripada membuat janji kepada Tuhan bahwa "saya akan berdoa paling


  sedikit satu jam sehari dan membaca Alkitab

lima

 pasal". Untuk


  menjaga supaya tidak lalai, saya menulis tanggal di dalam Alkitab


  saya dengan menggarisbawahi firman yang menegur maupun yang


  menguatkan saya secara pribadi.





  Pengasingan diri dengan berdoa di pondok Daud ini menjadi permulaan


  kebangkitan rohani kembali dalam hidup saya. Saya bersyukur karena


  tanggung jawab yang besar tidak lagi berada di pundak saya sendiri,


  melainkan melalui doa dan pembacaan Alkitab yang teratur serta


  memberikan waktu yang cukup bagi Tuhan untuk melayani jiwa dan


  keperluan saya, Ia telah mengurus segalanya.





  Saudara pembaca yang dikasihi Yesus Kristus, Tuhanku yang setiawan


  dan peka terhadap saya, adalah Tuhan Saudara yang peka terhadap


  Saudara juga. Sebelum Saudara jatuh, Dia mengingatkan Saudara,


  sebagaimana Dia mengingatkan saya, agar Saudara menyerahkan diri


  lagi sepenuhnya.





  Berikanlah waktu yang cukup untuk berdoa. Dalam doa, Saudara dapat


  mencapai lebih banyak. Memang banyak aktivitas yang penting. Tetapi


  ingatlah kata-kata Dr. Karel Bates terhadap bahaya yang mengancam


  lembaga gerejawi juga para pemimpin Kristen. "Seandainya Roh Kudus


  diambil dari lembaga-lembaga gerejawi, atau dari kehidupan pemimpin


  Kristen, 95% dari aktivitas kita masih dapat berlangsung". Mungkin


  sekali kita akan berkata, lihat, saya dapat bekerja tetap aktif dan


  kreatif tanpa Roh Kudus sekalipun. Tapi apakah artinya kegiatan


  tanpa Roh Kudus. Kegiatan itu tidak akan mempunyai nilai kekekalan.





  Berhati-hatilah para pemimpin Kristen, berilah waktu yang cukup


  untuk berdoa. Syarat mutlak bagi pemimpin-pemimpin Kristen ialah


  "mengutamakan doa" supaya kepemimpinan kita tidak menjadi


  kepemimpinan yang gersang, tidak bergairah, dan tidak berwibawa


  karena kurangnya berdoa.





  Sumber diedit dari:


  Judul buku   : Manajemen dan Kepemimpinan menurut Wahyu Allah


  Judul artikel: Pemimpin dengan Doanya


  Penulis      : Dr. P. Octavianus


  Penerbit     : YPPII dan Gandum Mas, Batu-Malang, 1986


  Halaman      : 175 - 178





==================================**==================================


ARTIKEL (2)





              -*- PERLINDUNGAN ROHANI UNTUK PEMIMPIN -*-





  Ungkapan seperti "sudah pada tempatnya dan sudah berjalan", tidaklah


  cukup. Dalam bagian ini, saya ingin menunjukkan sesuatu yang dalam


  banyak kasus mungkin menjadi nasihat yang paling penting untuk para


  pemimpin. Pemimpin-pemimpin Kristen memerlukan perlindungan rohani


  melalui doa khusus.





  Tidak ada yang ditakuti setan selain doa yang efektif. Setan tidak


  takut pada sederetan doa yang hanya terdiri dari kata-kata yang


  indah, yang sering dilakukan berbagai gereja dan orang-orang


  Kristen. Ketika para pemimpin Kristen giat membuat gerakan doa


  dengan mengajar dan memberi contoh syarat-syarat doa serta


  menempatkannya secara intensif dengan pelayanan doa yang sistematis


  di gereja-gereja mereka dan organisasi lainnya, dunia kegelapan pun


  menaruh perhatian yang sangat serius. Kini kita harus berhati-hati


  dan lebih serius menghadapi semua jenis serangan setan yang


  sebelumnya kurang kita perhatikan. Kekuatan-kekuatan jahat akan


  mengumumkan pernyataan perang.





  Bagaimana caranya agar pemimpin-pemimpin Kristen bangkit untuk


  menghadapi tantangan hebat seperti itu?





  Banyak yang berpendapat agar pemimpin berdoa lebih lama, lebih


  sungguh-sungguh, dan lebih penuh kuasa untuk menghindari serangan-


  serangan setan. Ini adalah gagasan yang baik. Bahkan saya juga


  menyarankan para pemimpin Kristen untuk mengembangkan kehidupan doa


  pribadi mereka. Pengalaman telah menunjukkan bahwa jika kita


  meninggalkan doa begitu saja, kesempatan untuk berhasil tidaklah


  setinggi yang bisa kita harapkan. Tak banyak gembala dan pemimpin


  Kristen lainnya yang secara pribadi bisa memberikan segala doa yang


  diperlukan oleh mereka, oleh gereja-gereja mereka, oleh pelayanan


  mereka atau organisasi mereka untuk mempertahankan diri dari


  serangan-serangan setan yang sungguh-sungguh berbahaya.





  Selanjutnya, perlu dimengerti bahwa semua orang Kristen termasuk


  pemimpin-pemimpin Kristen adalah anggota dari tubuh Kristus. Firman


  Allah mengajarkan bahwa fungsi gereja adalah seperti tubuh manusia;


  banyak organ tubuh yang berbeda, yang memiliki fungsinya masing-


  masing dan yang saling mendukung kepentingan anggota tubuh yang


  lain. Fungsi dari setiap orang percaya ditentukan oleh karunia-


  karunia rohani yang diterima dari Roh Kudus. Dari semua karunia


  rohani (daftar saya meliputi 27 karunia rohani), satu yang paling


  berharga yang dapat memberikan perlindungan rohani bagi para


  pemimpin Kristen, ialah karunia menjadi pendoa syafaat.





  DOA DARI

PARA

 PENDOA SYAFAAT





  Menurut definisinya, pendoa syafaat berada di celah antara Allah dan


  manusia yang sedang mereka doakan. Doa-doa dari para pendoa syafaat


  tidak pernah menggantikan kehidupan doa pribadi para pemimpin


  Kristen, tetapi pasti sangat menolong dan dengan kuasa menghasilkan


  sesuatu yang besar dan sangat mengherankan.





  Sebuah contoh Alkitab yang jelas tentang hal ini adalah cerita dalam


  Kitab Keluaran 17 tentang Yosua yang berperang dan memenangkan


  pertempuran di Rafidim ketika mengalahkan tentara Amalek. Sementara


  Yosua berperang, Musa memandang ke

medan

 pertempuran dari sebuah


  bukit dan menaikkan doa syafaat ke hadapan Tuhan dengan bantuan


  Harun dan Hur. Bila lengan Musa diangkat, Yosua menang; bila


  lengannya diturunkan, Yosua kalah. Seluruh poin dalam cerita ini


  menunjukkan bahwa pertempuran fisik ini benar-benar dimenangkan


  karena doa syafaat di dunia yang tidak kelihatan. Apakah itu karena


  doa Yosua yang akhirnya mendapat pujian atas kemenangan itu?


  Kemungkinan besar Yosua tidak banyak mendoakan semua itu. Tidak. Itu


  adalah doa Musa, sang pendoa syafaat yang mendatangkan kuasa Allah


  ke alam dunia yang kelihatan.





  Yosua mengingatkan saya akan banyak gembala dan pemimpin Kristen


  lainnya sekarang ini. Mereka berada di luar garis depan guna


  memenuhi tugas-tugas yang mungkin tidak mereka terima dari Allah.


  Pelayanan mereka di setiap bagian sama berartinya dengan pertempuran


  Yosua yang harus terjadi, dan mereka menyadari bahwa mereka perlu


  doa. Kebanyakan pemimpin Kristen yang saya kenal akan mengakui


  dengan jujur bahwa doa pribadi mereka kemungkinan kurang cukup untuk


  membawa mereka menuju kemenangan. Mereka perlu bantuan, dan bantuan


  itu telah disediakan oleh Allah.





  Sumber diedit dari:


  Judul buku     : Leaders On Leadership


  Penyunting umum: George Barna


  Judul artikel  : Pentingnya Doa dalam Memimpin


  Penulis        : C. Peter Wagner


  Penerbit       : Gandum Mas, Malang 2002


  Halaman        : 373 - 374





==================================**==================================


TIPS KEPEMIMPINAN





            -*- SEBELAS ALASAN MENGAPA DOA ITU PENTING -*-





  Reuben A. Torrey, dalam bukunya "How to Pray" (

New York

: Revell,


  1900), memberikan sebelas alasan mengapa doa itu penting, yaitu:





  - karena ada Iblis, dan doa adalah alat yang ditunjuk Tuhan untuk


    melawan Iblis (Efesus 6:12,13);





  - karena doa adalah cara yang Allah berikan kepada kita untuk


    mendapatkan apa yang kita perlukan dari Dia (Yakobus 4:2);





  - karena Tuhan memberikan suatu contoh kepada kita melalui para


    rasul yang menganggap doa sebagai pekerjaan terpenting dalam hidup


    mereka (Kisah

Para

 Rasul 6:1-4);





  - karena doa menduduki tempat paling utama dalam hidup Tuhan kita


    (Markus 1:35; Lukas 6;12);





  - karena doa adalah pekerjaan pelayanan Tuhan kita sekarang ini,


    yang kini menjadi Pengantara kita (Roma 8:34; Ibrani 7:25);





  - karena doa adalah alat yang ditetapkan Allah bagi kita untuk


    menerima pengampunan-Nya dan untuk menemukan "kasih karunia untuk


    mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibrani 4:6);





  - karena doa adalah alat untuk mendapatkan kepenuhan sukacita Tuhan





  - karena doa dengan pengucapan syukur adalah cara untuk memperoleh


    kelepasan dari kecemasan, dan sebagai gantinya memperoleh "damai


    sejahtera Allah yang melampaui segala akal" (Filipi 4:6,7);





  - karena doa adalah cara yang ditetapkan untuk memperoleh kepenuhan


    Roh Kudus Allah (Lukas 11:13);





  - karena doa adalah alat yang kita pergunakan agar selalu berjaga-


    jaga dan waspada karena kedatangan Kristus sudah dekat (Lukas


    21:24-36);





  - karena doa dipakai Allah untuk memajukan pertumbuhan rohani kita,


    memberi kekuatan pada pekerjaan kita, membawa orang lain supaya


    percaya pada kristus, dan mendatangkan semua berkat yang lain


    kepada jemaat Kristus (Mazmur 139:23,24; Matius 7:7,8).





  Sumber diedit dari:


  Judul buku    : Pola Hidup Kristen


  Judul artikel : Menanggapi Tuhan dalam Doa


  Penulis       : James Boyce


  Penerbit      : Kerja sama Yayasan Penerbit Gandum Mas,

Malang

;


                  Lembaga Literatur Baptis,

Bandung

; Yayasan Kalam


                  Hidup,

Bandung

; dan YAKIN, Surabaya 2005


  Halaman       : 645 - 646








==================================**==================================


INSPIRASI





               -*- TUHAN, JADIKAN AKU SEPERTI YUSUF -*-





  Saat saya terus berdoa, pikiran saya melayang pada Yusuf. Yusuf


  adalah pahlawan saya karena integritasnya. Saya berdoa, "Tuhan,


  berikan saya kekudusan pribadi Yusuf."





  Kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki Yusuf datang dalam sekejap. Hal


  demikian seringkali menyebabkan kesombongan dan asumsi bahwa ia


  tidak perlu menaati hukum. Kita semua tahu bahwa mereka yang


  berkuasa cenderung menyalahgunakan kekuasaannya. Sebagai seorang


  pemimpin, Anda mungkin mulai merasakan cengkeramannya.





  Tetapi Yusuf tetap tidak dirusak oleh kekuasaan. Dari apa yang


  dikatakan Kitab Suci kepada kita, ia menghindari hal-hal yang tidak


  pantas secara finansial, skandal politik, dan rayuan seksual. Ia


  tetap tidak tergoyahkan sampai pada akhirnya.





  Apa kunci dari integritas Yusuf? Saya percaya ia melihat


  kepemimpinannya sebagai kepengurusan yang kudus yang harus ia


  pertanggungjawabkan kepada Tuhan suatu hari nanti. Saya percaya


  Yusuf hidup dengan menyadari bahwa para pemimpin harus memiliki


  tingkat otoritas moral yang tinggi jika mereka ingin memimpin dengan


  baik. Otoritas moral datang dari hati yang sungguh-sungguh tunduk,


  pikiran yang tidak tercela, dan hati nurani yang bersih di hadapan


  Allah. Yusuf memiliki tipe integritas yang mengarah pada otoritas


  moral dan ia menjaganya di sepanjang hidupnya.





  Saya memerlukan integritas seperti itu. Orang-orang yang mengikuti


  kepemimpinan saya perlu memiliki keyakinan bahwa saya tidak akan


  menyeleweng; bahwa saya tidak akan menjalani kehidupan ganda; bahwa


  saya tidak akan bermain-main dengan uang; bahwa saya tidak akan


  tergoda oleh rayuan. Orang-orang memerlukan keyakinan mengenai


  integritas saya.





  Tetapi saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk mencegah agar tidak


  tergelincir ke dalam kebobrokan moral adalah dengan menyerahkan diri


  di hadapan Allah setiap hari dan berdoa memohon kuasa-Nya yang


  menguatkan.





  Saya diingatkan oleh sebuah pujian kuno yang menggambarkan kehidupan


  saya lebih dari yang saya harapkan.





    Ditakdirkan untuk mengembara, Tuhan aku merasakannya.


    Ditakdirkan untuk meninggalkan Tuhan yang aku kasihi.[1]





  Saya membenci semangat mengembara dan memberontak yang muncul di


  dalam diri saya dari waktu ke waktu. Tetapi saya tidak dapat


  mengabaikan atau menolak untuk mengakuinya. Ia ada dan nyata dan


  saya harus mengakuinya. Lalu saya harus melawannya dengan praktik-


  praktik spiritual. Praktik-praktik ini, saya akui, sangat membebani.


  Tetapi saya tahu nilainya, jadi saya berpegang padanya seperti orang


  tenggelam bergelantungan pada pelampung.





  Saya memerlukan disiplin harian dengan menuliskan doa-doa saya agar


  tetap terfokus. Tuhan memberkati Anda jika Anda tidak memerlukan


  disiplin keras itu, tetapi saya memerlukannya.





  Catatan Kaki:





  [1] "Come, Thou Fount of Every Blessing" oleh John Wyeth dan Robert


      Robinson.





  Sumber diedit dari:


  Judul buku    : Kepemimpinan yang Berani


  Judul artikel : Tuhan, Jadikan Aku Seperti Yusuf


  Penulis       : Bill Hybels


  Penerbit      : Gospel Press, Batam


  Halaman       : 247 - 248


Mengatasi Grogi di Depan Publik

Sunday, July 30th, 2006

MENGATASI GROGI  SAAT BICARA DI DEPAN PUBLIK

Seorang pecinta tulisan saya di sebuah rubrik koran lokal melontarkan pertanyaan bagaimana mengatasi grogi pada saat bicara di depan umum (publik)?  Meski ia sudah mempersiapkannya sebaik mungkin tetap saja grogi. Masalah grogi adalah masalah yang dialami oleh siapa saja yang sedang belajar bicara di depan publik (selanjutnya saya sebut bicara). Keterampilan ini adalah keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datang seketika.  Artinya, bila ingin mengusainya diperlukan banyak berlatih dan berlatih.

Untuk mengupas masalah grogi dan cara mengatasinya  saya akan menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama saya menggunakan pendekatan neurologis yakni bagaimana pikiran kita mencerna “keberadaan publik” (audience); dan pendekatan kedua adalah pendekatan praktis yakni bagaimana kiat-kiat praktis menghadapi grogi.

Setidaknya, dua pendekatan itu sudah saya praktikkan dalam hidup saya. Saya dulu yang pemalu luar biasa (bayangkan dulu saya tidak berani bilang “Kiri” pada saat naik bus/angkutan umum. Takut/malu kalau banyak orang yang nengok ke arah saya). Kini saya sudah terbiasa bicara di depan publik, bahkan menjadi  pembicara publik dan motivator yang dibayar.

Baik, selanjutnya saya jelaskan pendekatan pertama, kenapa secara neurologis (syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi. Seseorang menjadi grogi atau bahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan pulik itu sangat tergantung bagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar, yaitu  –dalam hal ini–  audience (publik).

Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari respon pikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatu yang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuah ketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan, maka semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yang menyenangkan.

Lebih kongkritnya begini. Kalau Anda membayangkan jeruk nipis  (sesuatu yang berada di luar Anda) terasa kecut, maka syaraf otak segera membayangkannya rasa kecut itu. Bahkan dengan hanya membayangkan saja air liur bisa keluar sebagai respon terhadapnya. Sebaliknya, kalau Anda membayang buah anggur yang segar, baru keluar dari kulkas, syaraf otak segera membayangkannya buah manis yang menyegarkan.

Begitulah cara pikiran kita bekerja, atau meresponnya. Bila Anda menanggapinya dengan negatif makan pikiran bekerja dengan cara negatif, milyaran sel syaraf bekerja untuk memperkuat respon negatif Anda. Bila Anda meresponnya dengan cara positif, maka seluruh jaringan syaraf bekerja sekuat tenaga untuk memperkuat respon positif Anda.

Audience (publik) bukanlah buah jeruk nispis yang kecut atau  buah anggur yang manis menyegarkan. Audience adalah sesutau yang netral sifatnya. “Manis” dan “kecut”-nya, arau “menakutkan” (yang membuat Anda grogi) atau “menyenangkan” sangat tergantung bagaimana Anda meresponnya.

Ketika Anda meresponnya sebagai seuatu yang “menakutkan” syaraf otak segera bekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif. Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan  negatif  untuk meyakinkan bahwa audience itu “menakutkan”. 

Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa: 1) audience terlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurang pede; 2) audience akan meneriaki “huuuuuuu……?” bila saya salah; 3) audience  akan mempergunjingkan saya bila saya salah; 4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik; 5) saya akan malu bila saya salah dalam bicara nanti dan;  6) masih banyak alasan negatif yang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi. Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dan salah-salah terus selama bicara. Pada saat seperti itu, pikiran sibuk memikirkan audience  yang “menakutkan” ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan.

Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif.  Pikran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkan Anda tampil lebih percaya diri.

Anda akan tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai: 1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik pada Anda untuk bicara; 2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru; 3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami oleh setiap orang; 4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara; 5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahan seperti Anda; 6) dalam sejarah belum ada audience yang “mencemooh” pembicara bila dalam menyampaikannya secara santun dan; 7) ini adalah kesempatan terbaik untuk berlatih bicara.

Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara. Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara. Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif seperti tersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi.

Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selama bicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap “menakutkan”. Menakutkan atau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita “menafsirkannya”. Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akan lancar, fokus pada  topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi.

Semua yang saya jelaskan di atas adalah mengunakan pendekatan neurologis. Selanjutnya saya menggunakan pendekatan praktis dalam mengatasi grogi.

Sebelum saya memberikan tips bagaimana cara mengatsi grogi saat pidato perlu saya ingatkan kembali bahwa keterampilan bicara (pidato) adalah keterampilan proses. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli bicara. Semuanya diawali dari, malu, gemetar dengan keringat dingin, grogi dan sejuta rasa lainnya. Jangankan bagi yang belum pernah pengalaman, seorang yang sudah pengalaman  pun kadang-kadang masih dihinggapi rasa kurang pede dan grogi. Jadi kalau menuggu sampai tidak ada rasa grogi, dibutuhkan waktu  dan jam terbang yang lama. Butuh proses.

Cara-cara berikut ini adalah cara praktis yang saya gunakan bagaimana mengatasi grogi.

Pertama, tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanian meningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil. Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasa pede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayang seorang tokoh  pintar bicara yang menjadi idola Anda. Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Anda yang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukan Anda.

Kedua, berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil di depan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah. Kalau Anda tidak pernah mencobanya, maka tidak pernah punya pengalaman. Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara. Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda berani mencobanya, berarti nyali Anda hebat. Semakin sering Anda lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi. Pokoknya Anda harus berani malu.

Keitga, mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara pada kelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar, pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yang seperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitia seminar, dan acara-acara pengajian.  Lama-ama saya biasa. Ingat Anda bisa karena biasa.

Keempat, tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknya ditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu, biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut. Ada dua cara dalam menulis, menulis lengkap kenudian  tinggal membaca atau tulis pokok-pokonya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Anda bicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek. Yang baik adalah pokok-pokok saja, kemudian Anda menguraiakannya saat bicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.

Kelima, akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja, cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangat membantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untuk membuat sebuah “bangunan logika”, sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Anda terbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu pada saat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.

Keenam, perbanyak membaca. Orang bicara atua menulis, tidak lepas dari kegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yang dapat dijadikan acuan  pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicara terjadi karena  tidak saja  grogi tetepi juga karena terbatasnya acuan (informasi) yang dimilikinya.

Ketujuh, janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat. Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapi jadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasah keterampilan bicara. Juga, biasakanlah berdsiskusi, jangan hanya menjadi pendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.

Kedelapan, rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicara merupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiap saat sehabis bicara. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puas dengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yang lupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus menjadi catatan untuk tampil lebih baik pada kesempatan mendatang.

Kesembilan, komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses  tanpa latihan  terus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogi bila  hanya tampil (berlatih) satu  atau dua kali saja. Bicaralah saat ada kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh  dengan “berbicara” bukan dengan cara “belajar tentang”. Satu ons praktik bicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara. Selamat mencoba.